Masalah di Liga Indonesia Dalam 6 Tahun Terakhir [2011-2017]

Luntas Football | Masalah di liga Indonesia hampir sudah lumrah terjadi mulai dari yang sepele hingga yang luar biasa. Masalah adalah sesuatu yang harusnya terjadi tapi tidak terjadi dan sesuatu yang harusnya tidak terjadi tapi terjadi. Kurang lebih begitulah definisi masalah.

Sejak didirikan pada 19 April 1930 PSSI masih dibilang belum bisa memberikan banyak prestasi bagi sepakbola Internasional. Mungkin, prestasi yang paling berkesan bagi sepakbola Internasional adalah Piala Dunia tahun 1938 meskipun masih bernama Hindia Belanda.

Begitupun dengan Liga Indonesia, Hampir setiap era Liga dalam setiap musimnya memiliki masalah, tidak jarang juga dalam sepakbola Indonesia digunakan sebagai tujuan politik untuk meraih keuntungan suatu golongan tertentu.

Mungkin kita masih ingat pada tahun 2011 lalu, inilah masalah di liga indonesia yang paling menghebohkan, saat itu terjai dualisme kepengurusan (PSSI) dan juga berimbas pada kompetisi sepakbola Indonesia yang turut menjadi dua ISL dan IPL dan uniknya kompetisi tersebut berjalan hingga usai, hingga akhirnya  sampai berujung dibekukannya PSSI dan mendapat sanksi FIFA.

Dari dulu hingga kini sepakbola Indonesia sangat akrab dengan yang namanya masalah, mungkin bisa saja tetap terjadi hingga kapanpun andai para pengurus sepakbola Indonesia tidak ada perubahan untuk sepakbola Indonesia yang lebih maju.

Info Harga Tiket Masuk Stadion di Liga 1

Pemain Bintang Yang Tenggelam di Liga 1

Berikut masalah di liga Indonesia dari 2011-2017

Liga Primer Indonesia 2011

Awal 2011, Kompetisi tandingan bernama Liga Premier Indonesia muncul. Kompetisi LPI muncul sebagai salah satu bentuk gugatan ketidakpuasan terhadap ISL di bawah rezim Nurdin Halid. Disokong pengusaha Arifin Panigoro, LPI resmi bergulir pada 8 Januari 2011. Setelah itu, masalah dualisme terus bermunculan.

Kisruh PSSI 2012 hingga 2013

Buntut kisruh di tubuh PSSI, beberapa anggota EXCO membentuk Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia. KPSI terbentuk oleh Toni Apriliani, La Nyalla Matalitti, Roberto Rouw dan Erwin Dwi Budiman. KPSI menyatakan mengambilalih kewenangan PSSI namun FIFA nyatakan tidak akui KPSI. KPSI membentuk Timnas Tandingan dan kisruh ini terus berlanjut hingga tahun 2013 setelahLa Nyalla diangkat menjadi Wakil Ketum PSSI.

Masalah Financial ISL 2014

Pada gelaran ISL 2014, tidak banyak kisruh di luar lapangan. Namun, masalah terjadi pada kompetisi ISL dimana banyak klub yang bermasalah di finansial. Berdasarkan data yang dirilis APPI di akhir musim, dari 22 kontestan hanya 11 tim yang dipastikan sudah melunasi gaji pemain mereka musim itu.

Pembekuan PSSI 2015

Bermula Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya tanggal 17 April 2015, La Nyalla Mattalitti terpilih menjadi Ketum PSSI. Namun beberapa saat setelah itu, Menpora, Imam Nahrawi mengeluarkan surat untuk membekukan PSSI. Kontan saja, FIFA akhirnya menjatuhkan banned kepada PSSI karena dianggap ada intervensi dari pemerintah.

Sanksi FIFA 2016

Buntut dari Banned FIFA, Indonesia tidak memiliki kompetisi resmi tahun 2016. Hanya ada turnamen ISC A dan ISC B. Timnas juga tidak dapat mengikuti berbagai ajang resmi. FIFA akhirnya memutuskan untuk mencabut sanksi terhadap sepak bola Indonesia pada Mei 2016.

Regulasi di Liga 1 2017

Liga resmi akhirnya bergulir tahun 2017, bernama Liga 1. Namun Liga 1 memunculkan banyak masalah terutama dalam hal Regulasi. Dimulai dengan regulasi U-23 yang dipaksakan, namun dihentikan ditengah jalan. Masalah Kitas, ITC, pembagian hak siar, rating TV, penggunaan wasit asing, Transparansi keuangan, dll banyak menimbulkan polemik. 15 klub di Liga 1 akhirnya menuntut PT LIB dan mengancam akan melakukan mogok jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

*6 data diatas dikutip dari instagram @pengamatsepakbola

Akankah masalah yang selalu ada di liga Indonesia ini akan selesai ?

Semoga masalah di liga indonesia seperti diatas tidak terulang lagi dalam kompetisi di musim berikutnya. Dan semoga juga dalam waktu kedepannya kepengurusan sepakbola Indonesia lebih profesional, transparan, dan tentunya berprestasi.